Senin, 18 November 2013

Seribu Pesan Satu Centimeter


           Tuhan menciptakan manusia dengan dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Tuhan juga menciptakan manusia dengan dibekali sifat yang berbeda-beda. Dan setiap orang mempunyai cerita sendiri-sendiri. Ada salah satu cerita tentang remaja yang jatuh cinta tetapi bukan cinta yang sesungguhnya. Kenapa? Karena inilah ceritanya. Bisa disebut sahabat atau yang lain.
            Nova Aldino itu namaku. Aku bukanlah anak yang dilahirkan di keluarga yang kaya dan kecukupan. Aku juga bukan anak yang bebas. Tak seperti anak-anak lainya yang seumuranku, aku sangat sulit bermain keluar rumah. Sehingga aku sangat sulit dalam bergaul, ditambah lagi keluargaku yang sering pindah rumah. Di kampung aku tak pernah mengikuti organisasi kepemudaan mengingat betapa sulitnya aku bergaul. Di sekolah aku bukan anak yang cukup populer, mungkin karena aku tidak mengikuti organisasi apapun. Aku mempunyai beberapa teman yang mungkin cepat atau lambat akan meninggalkanku. Teman, itu yang sangat aku butuhkan.  
            “Kriiiing.....” alarmku sudah berbunyi, tandanya waktu sudah pukul 04:30 aku harus bangun. “Bangun! Kau harus segera mandi lalu sarapan karena kita berangkat pagi.”, Ayahku membangunkanku. Itu karena aku hanya diantar Ayahku ke sekolah dan Ayahku harus segera pulang lagi untuk mengantar adekku sekolah. Cukup berat untuk seorang lelaki berumur 56 tahun. Aku memang belum bisa mengendarai motor sendiri karena tubuh yang cukum lemah. Menyebalkan memang. Apalagi dulu aku tidak sempat belajar mengendarai karena tak punya motor. Akhirnya aku sudah siap berangkat sekolah pagi itu. Sebelum berangkat Ayahku bertanya,”Nov, kamu masih ada duit kan di dompet?”. ”Tentu saja aku masih punya, Yah.” “Ada apa emang Ayah bertanya begitu?”. “Uang Ayah sudah habis Nov.” “Hari ini Ayah tidak bisa kasih kamu uang saku.”. ”Tenang saja Ayah, aku bisa berhemat dengan uangku kok. Apakah Ayah mau menggunakan uangku dulu?”. “Enggak, kamu pakai untuk makan aja.” Saatnya berangkat sekolah.
            Tak seperti biasanya. Aku merasa gugup sesampai di sekolah, padahal nggak ada apa-apa. Barangkali karena krisis percaya diri yang lagi aku alami. Aku tak pernah menyukai seorang gadis pun sebelumnya. Tidak sebelum aku mengenal Nisa Arina Putri. Sebelumnya karena aku tak pernah percaya diri. Itulah masalah terbesar dalam hidupku.
            Secara umum cinta itu berhubungan dengan romantis. Itulah yang banyak orang pikirkan. Tapi apakah selalu begitu. Bagaimana kalau cinta tak pernah mendekat 1 centimeter pun? Apakah setiap tahun akan sedih? 1 tahun tak berarti lama bagi seorang yang sedang menjalani kisah bewarna. Sahabat atau pacar yang lebih penting bagi remaja. Itulah yang aku pikir tentang hubunganku dengan Nisa. Latar belakang menjadi hambatan untuk mengejar 1 centimeter ke depan. Karena setiap waktunya terasa semakin menjauh. Tak seperti harapan kisah cinta. 
            Aku masih remaja. 17 tahun sudahlah wajar kalau aku mulai menyukai seorang gadis. Tapi susah bagiku untuk mendekati seorang gadis. Apa lagi dengan keadaanku sekarang. Aku pikir, di rumah saja aku sudah kesulitan bergaul, bagaimana dengan orang yang kusukai? 
            Sebenarnya bukan hal yang baru bagiku menyukai gadis itu. Karena aku sudah menyukainya sejak waktu masih di SMP. Orang bilang itu namanya cinta monyet. Padahal aku nggak suka monyet. Sekarang aku dan gadis itu berbeda sekolah. Dia sekarang bersekolah di salah satu sekolah swasta di kotaku. Beberapa kali aku pergi bersama dengan gadis itu, walau susah juga waktu aku akan mengajak bicara dia. 
          Suatu hari aku mengajaknya nonton, karena lagi ada cukup duit juga. “Nis, nonton yuk?” aku mengirim SMS ke dia. “Boleh, mau nonton apa?” “Kamu tau film Twilight yang baru tayang itu kan?” “Kita mau nonton itu? Kebetulan banget nih aku juga pengen nonton itu.” “Hari minggu ya nontonnya!”
          Tibalah hari di mana kami akan nonton bersama. Kami janjian untuk bertemu di depan tempat kami nonton nanti. Di salah satu mall di Jogja. “Hai Nova!” Nisa sudah sampai sebelum aku karena dia menggunakan motor untuk ke sana. Sebelum membeli tiket nonton kami ngobrol-ngobrol terlebih dahulu. “Nov, katanya uang sumbanganmu belum dibayar ya?” “Iya nih, kok tau sih?” “Temenku di sekolahmu yang bilang gitu.” Lumayan lama kami ngobrol dan akhirnya udah waktunya buat nonton. “Vampirnya keren ya, Nov. Coba aku punya pacar kaya gitu.” Tanpa sadar aku mengucap “Coba kalau itu aku yang jadi pacarmu” “Eh? Kamu bilang apa Nov?”. Dengan sedikit panik aku lalu menjawab,”Enggak bilang apa-apa kok, Nis” “Kamu bilang coba kalau pacar apa gitu.” “Haha.. Lupakan aja”. Twilight itu emang cukup romantis walau ceritanya tentang Vampir. Akhirnya selesai sudah filmnya. Sebelum pulang aku ajak Nisa makan dulu karena aku memang sudah lapar. Tempat makannya cukup nyaman walau di tengah keramaian mall. Aku mulai mengajaknya ngobrol. Aku menanyakan apakah dia sudah punya pacar atau belum. Dan jawabannya dia belum punya tapi dia sudah dekat dengan salah satu murid di sekolahnya. 
          Hari itu cukup membuatku bimbang. Karena sebelumnya aku ingin mengungkapkan perasaanku. Malam harinya aku menjadi susah tidur karena memikirkan itu. Dan akhirnya aku hanya bisa menunggu keajaiban yang akan datang. Berharap dia mempunyai sedikit perasaan kepadaku. Seperti biasanya esoknya aku harus melakukan rutinitas. Tapi hari senin itu aku benar-benar tidak semangat. Seperti kehilangan motivasi. Semakin menderita saja diriku ini pikirku. Di waktu pelajaran Bahasa Inggris guruku memberi motivasi “Jangan berpikir kamu adalah orang yang paling menderita!” Benar juga pikirku. Untuk apa bersedih terus. Lebih baik aku mencari jalan keluar untuk ini. 
          Sepulang sekolah akhirnya aku mantapkan hatiku. Aku ingin mengungkapkan perasaanku malam itu. Dan akhirnya aku lakukan. Walau hanya lewat SMS. Tidak terlihat jantan memang. Tapi mau bagaimana lagi, cuma itu yang bisa aku lakukan. Jantungku berdebar sangat kencang sebelum aku mengirim SMS kepada Nisa. Setelah menunggku beberapa saat. Akhirnya ada SMS masuk. Ternyata dari Nisa. Saat aku buka SMS itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Sungguh tak seperti yang kupikirkan. Sangat diluar dugaan. Aku tak paham apakah aku terlambat. Mungkin iya pikirku. Nisa baru saja resmi berpacaran dengan salah satu teman di sekolahnya, sangat mengejutkan. Tapi aku ikhlas.
          Satu tahun sudah berlalu setelah Nisa berpacaran. Dan aku masih saja memendam perasaan kepadanya.  Walau pun dia sudah punya pacar tapi kami masih bisa keluar untuk sekedar bermain bersama. Karena kami sudah seperti sahabat. Begitulah dia menganggapku. Dan sampai saat itu aku masih menyembunyikan perasaanku sebenarnya dari dia. Walau begitu dialah motivasi bagi diriku untuk berubah menjadi lebih baik.
          Tak kuduga setelah 1 tahun dia menjalin hubungan dengan pacarnya akhirnya dia putus. Sore hari setelah dia setelah putus dia mengirim SMS kepadaku. “Nov, aku ingin cerita sama kamu.” “Kamu mau cerita apa, Nis” “Aku habis putus sama pacarku, Nov.” “Kenapa?” “Aku sama dia sudah nggak cocok lagi.”

          Waktu terus berlalu. Dan seiring waktu kami mulai beranjak dewasa. Kami sudah kelas 3 SMA sekarang. Tugas semakin banyak dan kami mulai semakin sibuk. Kami jadi semakin susah untuk sekedar bertemu, bahkan di dunia maya. 
          Hari ini hari ulang tahunku. Tapi aku merasa gelisah, karena aku ingin menunggu ucapan dari Nisa. Nisa Arina Putri. Harapan yang cukup sederhana di ulang Tahun yang ke-18. Ada sesuatu yang menyadarkanku tentang perasaanku kepadanya. Meskipun aku sudah menulis 1000 pesan balas membalas dengannya, tetapi hati kami tidak mendekat bahkan 1 centimeter pun. Tapi bukan alasan untukku menjauh. Karena cerita ini bukanlah romantisme seperti di film. Inilah realita. Aku bersahabat dengan dia. Itulah ceritanya. Karena sahabat harus selalu aku jaga.

          Ini bukanlah cinta. Semua orang bisa bicara itu. Tapi apa mudah membicarakan perasaan? Seiring waktu berjalan. Persahabatan terasa begitu erat. Ingin selalu ku jaga. Walau aku masih memendam rasa. Tapi Tuhanlah yang menentukan. Aku bercita-cita menjadi Arsitek yang akan membangun dunia ini menjadi lebih indah. Begitu pula hati ini. Aku akan merancang dan membangunnya. Untuk sesuatu yang indah. Yang tak tahu apa artinya. Jangan berpikir cerita cinta harus berakhir saling mencintai. Berpikir realistis di dalam realita. Dunia tak sesempit sangkar burung. Hati ini tak seluas dunia. Karena sekarang hati ini sudah penuh dengan kebahagiaan.



~~~~


**ini adalah cerpen hasil karya sahabatku Jimmy buat bantuin tugas bahasa indonesia hehe..karna hasilnya bagus maka aku post di blog. dia bilangnya kurang  bagus tapi buatku ini bagus aja. selamat membaca**