Rabu, 24 November 2010

Resensi Novel Fiksi 'Hafalan Shalat Delisa'




Hafalan Shalat Delisa mantap….!
Judul : Hafalan Shalat Delisa
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Terbit : Jakarta Selatan, November 2005 (+248 halaman)
ooooooiISBN 979-3210-60-5
Ukuran : 20.5 X 13.5 cm
Cetakan :
• Cetakan I, Novemeber 2005
• Cetakan II, Mei 2006
• Cetakan III, November 2006
• Cetakan IV, Januari 2007
• Cetakan V, Juli 2007
Harga : Rp 40.000,00
Jenis : Novel Remaja

Sinopsis Buku :
Sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan novel, tapi ketika saya membaca novel “Hafalan Shalat Delisa” saya mulai tertarik. Kisahnya yang sederhana dan bernuansa Islami membuat saya makin cinta dengan novel tersebut.
Menceritakan mengenai Delisa, anak berusia 6 tahun yang hidup bersama ummi dan ketiga kakaknya di Lhok Nga, Aceh. Sedangkan Abinya bekerja di kapal dan hanya pulang tiga bulan sekali. Indah sekali keluarga ini. Ummi yang penyabar dan tegas. Fatimah yang pintar, Zahra yang pendiam, dan juga Aisyah yang suka jahil dan jadi temen berantem Delisa. Setiap pagi, sehabis Shalat subuh, mereka bisa belajar Al-Quran kepada ummi mereka. Itu tiap hari dilakukan, kecuali hari senin. Karena disaat seperti itulah, Abi mereka yang bekerja di Canada, menelepon.

Delisa kecil, merasa kesulitan dengan hafalan Shalatnya. Bahkan Ummi, akan menghadiahkan sebuah kalung manis jika Delisa bisa menghafal semua doa untuk Shalat. Delisa hampir menghafal semuanya ketika Ummi mengajaknya membeli kalung di Koh Acan, seorang Konghuchu yang baik, yang suka memberikan separuh harga, ketika tahu kalung itu untuk hadiah hafalan Shalat. Delisa kecil yang polos dan pintar bisa membuat senang banyak orang. Ia mengucapkan Khamsia kepada koh Acan karena diberi separuh harga.

Delisa yang susah bangun Shalat Subuh, sering diolok oleh Aisyah. Aisyah juga sempat ngambek karena merasa kalung Delisa lebih bagus dari kalungnya. Untung ada Ummi mereka yang bijaksana, yang mampu mengatasi itu semua. Di Minggu pagi, tangal 26 Desember 2004, Delisa ditemani Ummi, berangkat sekolah untuk menguji sejauh mana hafalan Shalatnya. Sebegitu khusyunya ia mengucapkan bacaan Shalat, sampai ia tidak sadar bahwa Bumi Aceh berguncang. Tapi Delisa tidak peduli, ia terus membacakan hafalannya. Begitupun ketika air bah datang, Delisa masih tidak sadar, hingga tubuh mungilnya dihempas air.

Mereka semua terhempas. Ummi, teman-temannya, gurunya, semuanya terhempat air bah.
Ibu Gurunya –Ibu Nur. Memberikan papan yang ia temukan kepada Delisa, agar Delisa selamat. Mulia sekali pengorbanan Ibu Nur. Dengan memberikan papan itu, ia sendiri meninggal diterjang air. Selama dua minggu, Delisa terkapar disemak-semak. Tubuhnya penuh luka. Tulangnya patah, ia kelaparan dan kehausan. Keajaiban datang, ada setumpuk Apel disampingnya. Dengan apel itulah ia bertahan, serta dengan membuka mulut lebar-lebar menadah air hujan dimalam hari. Tak jauh dari tubuhnya, Jasad Tiur –sahabatnya, terlihat disana. Ia diselamatkan tentara Amerika dan dirawat di RS tengah laut. Ia sempat tak sadar berapa hari. Untung semua merawatnya dengan baik. Terlebih seorang perawat muslimah keturunan Turki, yang selalu menjaganya setiap saat. Di tempat yang lain, Abi, hanya bisa memasrahkan rumahnya yang hancur, serta kehilangan anak dan istrinya.

Pertemuan Delisa dan Abinya sangat mengharukan. Abi tidak sanggup menjawab pertanyaan Delisa yang datang terus menerus. “Mana Umi? Kok kak Fatimah, kak Zahra dan Kak Aisyah tidak diajak?“ Abi sulit bagaimana menjelaskan kepada putri bungsunya itu. Ia ingin menjelaskan bahwa Zahra dan Aisyah, ditemukan meninggal dalam posisi berpelukan. Begitu juga dengan Fatimah. Sedangkan jasad sang ibu sampai sekarang belum ditemukan. Berulang kali Delisa bertemu dengan Ummi dan kakaknya di dalam mimpi. Ia berteriak keras untuk diajak tinggal disana. Namun, Ummi bertindak tegas. Delisa belum bisa tinggal, ia harus menyelesaikan urusannya yang tertunda. Yakni hafalan-hafalan shalatnya....

Sungguh mengharukan. Sampai kata terakhir buku inipun, keharuan tidak hilang. Walau begitu Tere Liye, tidak melupakan sisi humor, dengan menceritakan keluguan Delisa.
Buku ini mengajarkan banyak hal. Banyak sekali malah. Novel ini juga seperti menyentil hati. Pembaca diajak untuk berfikir. Sudahkan kita sebaik Delisa? Sudahkah kita bisa bersikap seperti Delisa? Anak umur 6 tahun, yang mengajarkan banyak hal.
Yang membuat saya tertarik dengan novel tersebut adalah nilai keikhlasan dan kesabaran tinggi yang sangat mengharukan dengan latar belakang tsunami, buku ini mengajak kita mengerti akan kehidupan. Sedangkan saya pribadi masih seringkali kecewa karena tidak memperoleh yang saya inginkan. Yang membuat saya bingung kata-kata dan bahasanya sulit dimengerti.

Buku yang indah ditulis dalam kesadaran ibadah. Buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian, mencintai anugerah juga musibah, dan mencintai indahnya hidayah.
– Habiburrahman El Shirazy
Novelis/penulis Best Seller Ayat-Ayat Cinta
Novel ini disajikan dengan gaya sederhana namun sangat menyentuh. Penulis berhasil menghadirkan tokoh-tokoh dan suasana dengan begitu hidup. Islami dan luar biasa. Pantas dibaca oleh siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan rohani.
– Ahmadun Yosi Herfanda
Sastrawan dan Redaktur Sastra Republika
Dramatis, tanpa perlu hiperbolik. Menyentuh, tanpa perlu mengharu-biru. Kecerdasan dalam kepolosan. Terkadang malu sendiri ketika menyimak si mungil Delisa. Seolah menonton film dokumenter ketika membacanya lembar demi lembar. Two thumbs up!
– Azhar Kuntoaji
Fotografer; Pembaca Pertama Novel Ini; Penikmat Sastra
Novel tentang bacaan shalat anak 6 tahun dengan latar bencana tsunami ini sangat mengharukan. Nilai keikhlasan dengan halus di jalin pengarangnya ke dalam plot cerita dunia kanak-kanak ini. Saya membacanya dengan rasa sentimental, karena selepas tsunami saya pernah bolak-balik ke Lhok Nga itu
– Taufiq Ismail

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar